Perkuat Kemandirian Siswa, Pemkot Pekalongan Galakkan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah

PEKALONGAN – Suasana berbeda terlihat di sejumlah Sekolah baik jenjang PAUD/TK Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Pekalongan pada hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru. Terpantau para ayah tampak antusias mendampingi buah hati mereka memasuki gerbang sekolah. Fenomena positif ini merupakan bagian dari suksesnya "Gerakan Ayah Mengantar Anak" yang digalakkan oleh Pemerintah Kota Pekalongan melalui Surat Edaran Nomor: B/1298/400.13/2026 Tentang Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak Ke Sekolah (GEMAR) Dan Gerakan Ayah Mengantar Anak Di Hari Pertama Sekolah (GAMAS).
Gerakan ini bertujuan untuk membangun kedekatan emosional antara orang tua khususnya sosok ayah dengan anak, sekaligus memberikan rasa aman dan percaya diri kepada siswa baru yang mulai memasuki lingkungan belajar yang baru.
Bukan Sekadar Mengantar, Tapi Menaruh Harapan
Sejak pagi hari, para ayah yang biasanya langsung berangkat kerja, meluangkan waktu khusus untuk menggandeng tangan anak-anak mereka hingga ke depan ruang kelas. Tidak sedikit dari mereka yang menyempatkan diri berdialog dan bersalaman dengan para guru.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekalongan melalui Bidang Pembinaan Sekolah Dasar menegaskan bahwa kehadiran sosok ayah di hari pertama sekolah memiliki dampak psikologis yang luar biasa bagi perkembangan anak.
"Hari pertama sekolah adalah fase transisi yang penting bagi anak, terutama jenjang SD. Ketika ayah hadir di samping mereka, anak akan merasa didukung penuh. Ini bukan sekadar mengantar sampai gerbang, tapi merupakan simbol kolaborasi yang kuat antara rumah dan sekolah dalam mendidik anak," ujarnya.
Fokus pada Adaptasi dan Penguatan Karakter
Dinas Pendidikan Kota Pekalongan juga memastikan bahwa hari pertama masuk sekolah ini dikemas melalui Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang ramah anak, edukatif, dan menyenangkan. Pihak sekolah diminta memprioritaskan kenyamanan siswa agar proses adaptasi berjalan lancar.
Selain membangun kedekatan, gerakan ini juga hadir sebagai respons terhadap tingginya fenomena fatherless di Indonesia dan menjadi pengingat pentingnya keterlibatan ayah dalam mendukung tumbuh kembang anak di rumah maupun di lingkungan pendidikan, serta meminimalisir kecemasan siswa baru (separation anxiety). Keterlibatan aktif orang tua khususnya ayah di awal tahun ajaran ini menjadi fondasi penting untuk mengawal capaian belajar siswa, termasuk dalam mendukung penguatan literasi dan numerasi anak sejak dini.
Respon Positif dari Orang Tua
Gerakan ini mendapat apresiasi tinggi dari para orang tua murid. Joko Prakosa, S.Sn, salah satu wali Adinda Sasikirana murid kelas 1 SD Podosugih 1 , mengaku sengaja meminta izin sedikit terlambat ke tempat kerja demi mengantar putranya. Saya sangat senang, karena merupakan kesempatan untuk lebih dekat dan memberi support anak di hari pertama pengalaman anak berangkat sekolah di tempat yang baru. senang sekali ada di momen pengalaman pertama anak yang tidak bisa dilupakan”. Hal senada disampaikan Miftahul Ulum ayah dari Syifa Qurrotul Aini SD Medono 1 “Setuju adanya gerakan sekolah antar ayah, agar anak bisa dekat dengan ayah. Saya mengapresiasi sekolah dan pemerintah karena gerakan ini sebuah himbauan bukan kewajiban. Mengingat tidak semua anak memiliki ayah. Namun sejauh ini sekolah dan pemerintah sudah bijak, tidak membuat hal ini sebagai sebuah kewajiban”. Dengan sinergi yang kuat antara pihak sekolah dan keterlibatan aktif para ayah, Kota Pekalongan optimis mampu mencetak generasi emas yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki mental yang tangguh dan karakter yang berakhlak mulia.
Gerakan ini bertujuan untuk membangun kedekatan emosional antara orang tua khususnya sosok ayah dengan anak, sekaligus memberikan rasa aman dan percaya diri kepada siswa baru yang mulai memasuki lingkungan belajar yang baru.
Bukan Sekadar Mengantar, Tapi Menaruh Harapan
Sejak pagi hari, para ayah yang biasanya langsung berangkat kerja, meluangkan waktu khusus untuk menggandeng tangan anak-anak mereka hingga ke depan ruang kelas. Tidak sedikit dari mereka yang menyempatkan diri berdialog dan bersalaman dengan para guru.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekalongan melalui Bidang Pembinaan Sekolah Dasar menegaskan bahwa kehadiran sosok ayah di hari pertama sekolah memiliki dampak psikologis yang luar biasa bagi perkembangan anak.
"Hari pertama sekolah adalah fase transisi yang penting bagi anak, terutama jenjang SD. Ketika ayah hadir di samping mereka, anak akan merasa didukung penuh. Ini bukan sekadar mengantar sampai gerbang, tapi merupakan simbol kolaborasi yang kuat antara rumah dan sekolah dalam mendidik anak," ujarnya.
Fokus pada Adaptasi dan Penguatan Karakter
Dinas Pendidikan Kota Pekalongan juga memastikan bahwa hari pertama masuk sekolah ini dikemas melalui Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang ramah anak, edukatif, dan menyenangkan. Pihak sekolah diminta memprioritaskan kenyamanan siswa agar proses adaptasi berjalan lancar.
Selain membangun kedekatan, gerakan ini juga hadir sebagai respons terhadap tingginya fenomena fatherless di Indonesia dan menjadi pengingat pentingnya keterlibatan ayah dalam mendukung tumbuh kembang anak di rumah maupun di lingkungan pendidikan, serta meminimalisir kecemasan siswa baru (separation anxiety). Keterlibatan aktif orang tua khususnya ayah di awal tahun ajaran ini menjadi fondasi penting untuk mengawal capaian belajar siswa, termasuk dalam mendukung penguatan literasi dan numerasi anak sejak dini.
Respon Positif dari Orang Tua
Gerakan ini mendapat apresiasi tinggi dari para orang tua murid. Joko Prakosa, S.Sn, salah satu wali Adinda Sasikirana murid kelas 1 SD Podosugih 1 , mengaku sengaja meminta izin sedikit terlambat ke tempat kerja demi mengantar putranya. Saya sangat senang, karena merupakan kesempatan untuk lebih dekat dan memberi support anak di hari pertama pengalaman anak berangkat sekolah di tempat yang baru. senang sekali ada di momen pengalaman pertama anak yang tidak bisa dilupakan”. Hal senada disampaikan Miftahul Ulum ayah dari Syifa Qurrotul Aini SD Medono 1 “Setuju adanya gerakan sekolah antar ayah, agar anak bisa dekat dengan ayah. Saya mengapresiasi sekolah dan pemerintah karena gerakan ini sebuah himbauan bukan kewajiban. Mengingat tidak semua anak memiliki ayah. Namun sejauh ini sekolah dan pemerintah sudah bijak, tidak membuat hal ini sebagai sebuah kewajiban”. Dengan sinergi yang kuat antara pihak sekolah dan keterlibatan aktif para ayah, Kota Pekalongan optimis mampu mencetak generasi emas yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki mental yang tangguh dan karakter yang berakhlak mulia.
PRINT +
DOWNLOAD PDF